Lebak Banten, gemaindonews.com— Suasana haru menyelimuti Padepokan Kisakar Dirgantara saat kunjungan Regen Abdul Aris, S.E., berakhir. Kedekatan yang terjalin selama pertemuan membuat momen perpisahan terasa emosional. Sejumlah kaum ibu dilaporkan meneteskan air mata, sementara warga lainnya mengiringi kepulangan sang legislator dengan doa dan harapan terbaik.
Kunjungan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu bukan sekadar pertemuan formal. Di sebuah saung sederhana, Regen memilih duduk bersila, makan bersama warga secara lesehan dengan alas daun pisang tradisional. Suasana tersebut menghadirkan ruang kebersamaan tanpa sekat, tempat masyarakat menyampaikan keluhan, harapan, dan aspirasi secara langsung.
Di tengah suasana kekeluargaan itu, para ustaz, tokoh masyarakat, dan pengurus Padepokan Kisakar Dirgantara menyampaikan sejumlah persoalan, mulai dari kebutuhan infrastruktur sosial hingga pentingnya menjaga kelestarian budaya lokal di wilayah perbatasan Kabupaten Lebak.
Regen tampak menyimak dan mencatat poin demi poin aspirasi yang disampaikan. Sikap tersebut menjadi perhatian warga yang berharap suara masyarakat dapat diperjuangkan melalui mekanisme dan kewenangan lembaga legislatif.
Pencak Silat, Tawa, dan Kebersamaan Warnai Pertemuan
Kehangatan semakin terasa ketika anak-anak didik Padepokan Kisakar Dirgantara mempersembahkan pertunjukan pencak silat tradisional. Gerakan demi gerakan para pesilat muda menjadi simbol semangat generasi penerus dalam mempertahankan warisan budaya leluhur.
Regen memberikan apresiasi kepada para pesilat muda melalui saweran sebagai bentuk dukungan terhadap semangat mereka. Keceriaan pun berlanjut ketika ia membaur bersama warga dalam joget kebudayaan.
Tawa dan kegembiraan menyatu dalam suasana sederhana tersebut. Bagi masyarakat, pertemuan itu menjadi kesempatan untuk berdialog sekaligus membangun kedekatan dengan wakil rakyat di luar suasana formal kelembagaan.
Namun, ketika waktu perpisahan tiba, suasana berubah. Kegembiraan yang sebelumnya memenuhi padepokan berganti menjadi keharuan. Sejumlah kaum ibu tak kuasa membendung air mata saat melepas kepergian Regen.
Momen tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi warga yang hadir. Selepas kunjungan, masyarakat secara spontan menggelar doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Doa dipanjatkan agar Regen senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan dalam menjalankan tugas, umur yang berkah, serta perlindungan Tuhan Yang Maha Esa dalam mengemban amanah rakyat Kabupaten Lebak.
Michael: Kepemimpinan Sejati Harus Hadir dan Mendengar
Ketua Umum LSM-NIL sekaligus pendiri Padepokan Kisakar Dirgantara, Michael, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Regen Abdul Aris. Ia menilai, kehadiran langsung seorang wakil rakyat di tengah masyarakat merupakan langkah penting untuk memahami persoalan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
“Kehadiran Bapak Regen Abdul Aris, S.E., di Padepokan Kisakar Dirgantara merupakan wujud nyata compassionate leadership, yaitu kepemimpinan yang mengedepankan empati, kepedulian, dan ketulusan. Di tengah kesibukan menjalankan tugas kedewanan, beliau bersedia hadir, berdialog, dan mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung,” ujar Michael.
Menurutnya, hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat tidak seharusnya berhenti pada pertemuan seremonial. Aspirasi yang diterima harus dipetakan, dikaji, dan diperjuangkan melalui mekanisme yang sesuai dengan kewenangan serta ketentuan yang berlaku.
Sebagai representasi Komisi III DPRD Kabupaten Lebak, Regen diharapkan dapat menindaklanjuti berbagai masukan masyarakat sesuai bidang tugas dan kewenangannya.
Michael juga menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal dan pembangunan sosial perlu berjalan beriringan. Karena itu, sinergi antara lembaga legislatif, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas kebudayaan dinilai penting untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
“Bagi kami, kunjungan ini menjadi momentum untuk mempererat kemitraan. Harapan kami, komunikasi yang terbangun tidak berhenti pada kebersamaan hari ini, tetapi berlanjut menjadi langkah konkret dalam memperjuangkan kebutuhan masyarakat serta menjaga kebudayaan lokal,” tegasnya.
Doa Warga Mengiringi Harapan
Di balik kesederhanaan saung dan hidangan beralas daun pisang, pertemuan tersebut menyimpan pesan tentang pentingnya kehadiran, kepedulian, dan kemauan untuk mendengarkan.
Tangis yang mengiringi perpisahan menjadi gambaran suasana emosional yang dirasakan sebagian warga. Sementara doa yang dipanjatkan bersama menjadi ungkapan harapan agar hubungan baik tersebut terus terjaga dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Kini, harapan warga tertuju pada tindak lanjut berbagai aspirasi yang telah disampaikan. Sebab, bagi masyarakat, kedekatan dengan wakil rakyat akan semakin bermakna ketika kebersamaan itu diikuti kerja nyata, perjuangan aspirasi, dan hasil yang dapat dirasakan bersama.
Pewarta: Riki


Social Header