Breaking News

Akses Menuju Huntara Jadi Sorotan, Warga Minta Pengawasan Ketat


Lebak, gemaindonews.com – Harapan para korban bencana longsor dan banjir bandang tahun 2020 di Sigobang kembali menyala saat alat dan pekerja mulai mengeraskan badan jalan menuju Hunian Sementara (Huntara) di Kampung Sibandung, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebak Gedong. Namun di balik harapan itu, muncul kekhawatiran: apakah pembangunan ini benar-benar dikerjakan dengan layak, atau sekadar formalitas belaka?

Bagi warga pengungsi, akses jalan bukan sekadar proyek infrastruktur. Jalan itu adalah urat nadi kehidupan—penghubung antara keterisolasian dan harapan baru. Sayangnya, di lapangan justru terlihat pemandangan yang memunculkan tanda tanya.

Asep, warga Kecamatan Lebak Gedong, mengaku bersyukur pembangunan akhirnya dimulai. Namun rasa syukur itu bercampur cemas.

“Kami tentu senang karena ini tanda ada perhatian untuk korban bencana. Tapi jangan sampai pengerjaannya asal-asalan. Ini uang negara, uang rakyat,” tegasnya, Rabu (12/2/2026).

Menurutnya, pemasangan batu pada badan jalan terlihat tidak merata dan terputus-putus. Lebih mengkhawatirkan lagi, material batu yang digunakan diduga berasal dari sekitar lokasi, termasuk batu cadas yang dipecah langsung di badan jalan.

Di lokasi, tampak sejumlah pekerja memecah batu besar di tengah jalan. Batu cadas yang keras itu kemudian dipasang sebagai bagian dari pengerasan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan soal standar kualitas dan ketahanan jalan tersebut ke depan.

“Silakan lihat sendiri. Batu-batu besar dipecah di tempat, bahkan batu cadas dipakai. Kami khawatir hasilnya tidak akan bertahan lama,” ujar Asep.

Yang semakin menambah kegelisahan warga, tidak terlihat papan informasi proyek di sekitar lokasi. Tidak ada keterangan mengenai nilai anggaran, panjang jalan yang dikerjakan, maupun sumber dana secara terbuka. Padahal, transparansi adalah hak masyarakat.

Pantauan di lapangan membenarkan adanya pola pemasangan batu yang terkesan tambal-sulam. Sementara itu, seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa keterbatasan pasokan material menjadi alasan penggunaan batu yang tersedia di sekitar lokasi.

“Karena kurang batu, jadi pakai yang ada di sini,” ujarnya singkat.

Kini, warga berharap pemerintah dan pihak terkait turun tangan melakukan pengawasan ketat. Jangan sampai akses yang seharusnya menjadi simbol kebangkitan pascabencana justru berubah menjadi proyek yang rapuh sejak awal.

Bagi para korban yang telah kehilangan rumah dan harta benda, mereka tak ingin kembali kehilangan—kali ini karena pembangunan yang tak sesuai harapan.(yayat) 

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - GEMA INDONEWS