Bagas yulianto Kordinator Pusat BEM Banten Bersatu mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian BEM Banten Bersatu dalam upaya mendukung pemulihan kehidupan sosial, pendidikan, dan keagamaan masyarakat pascabencana.
Saat ini kegiatan peletakan batu pertama menjadi simbol awal komitmen mahasiswa untuk menghadirkan ruang belajar yang layak bagi anak-anak serta tempat ibadah yang lebih nyaman bagi warga.
Dan pembangunan Taman Baca Masyarakat diharapkan menjadi pusat literasi dan ruang tumbuhnya semangat belajar generasi muda di tempat pengungsian atau Huntara(Hunian Sementara).
Sementara renovasi Majlis Ta’lim dilakukan agar masyarakat memiliki fasilitas ibadah yang lebih aman dan representatif sebagai pusat kegiatan keagamaan serta penguatan nilai-nilai spiritual.Ini merupakan bentuk nyata kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat sekaligus sebagai panggilan moral atas kondisi yang selama ini terjadi.
“Peletakan batu pertama ini bukan sekadar simbol dimulainya pembangunan fisik, tetapi juga menjadi langkah awal dalam merawat harapan masyarakat.Sudah enam tahun masyarakat tinggal dan hidup dalam keterbatasan, sedangkan pembangunan infrastruktur yang dijanjikan pemerintah tak kunjung terealisasi dan kehadiran kami adalah bentuk kepedulian sekaligus pengingat bahwa rakyat tidak boleh terus dibiarkan menunggu tanpa kepastian,” ujar Bagas Yulianto(9/2/2020).
Sementara Ketua pelaksana kegiatan, Rizqi, menyampaikan bahwa program ini lahir dari semangat gotong royong dan kepedulian bersama untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami berupaya menghadirkan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Taman baca ini diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak agar terus belajar, sementara renovasi Majlis Ta’lim menjadi bentuk kepedulian kami terhadap kehidupan spiritual warga. Ini mungkin langkah kecil, tetapi menjadi bukti bahwa gerakan bersama bisa menghadirkan perubahan,” ungkapnya.
Hal ini merupakan momentum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Banten Bersatu untuk menyampaikan kritik konstruktif kepada pemerintah daerah maupun pusat agar lebih serius memperhatikan kondisi masyarakat di kecamatan Lebak Gedong dan khususnya yang berada di Kampung Sigobang karena kurang lebih enam tahun warga masih bertahan di hunian sementara ini dengan fasilitas infrastruktur yang belum memadai dan pembangunan yang belum kunjung tuntas.
BEM Banten Bersatu menilai bahwa kondisi ini tidak boleh terus berlarut-larut. Negara harus hadir secara nyata dalam memastikan hak masyarakat untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak, akses pendidikan, serta infrastruktur yang memadai.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya bergerak dalam aksi sosial, tetapi juga menyuarakan harapan masyarakat agar pembangunan yang dijanjikan dapat segera direalisasikan. Taman Baca Masyarakat dan renovasi Majlis Ta’lim menjadi simbol bahwa harapan masih terus dijaga, sekaligus pengingat bahwa tanggung jawab besar tetap berada di tangan pemerintah pungkasnya.
Sementara Bared selaku Ketua RT di kampung Sigobang sangat mengapresiasi atas kepedulian dari mahasiswa yang telah hadir dan bergerak langsung membantu warga korban bencana.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa BEM Banten Bersatu yang telah peduli dan mau turun langsung membantu masyarakat di sini. Selama bertahun-tahun kami mengungsi dan hidup di tempat hunian sementara dengan kondisi infrastruktur yang terbatas. Dan kehadiran taman baca serta perbaikan Majlis Ta’lim ini tentu sangat bermanfaat bagi anak-anak dan warga kami,” ujarnya.(Red)
.



Social Header