Breaking News

Di Bawah Langit Muharram: Ponpes Riyadhul Mutafakirin Merajut Senyum Ratusan Anak Yatim di Lebak


Lebak, gemaindonews.com – Bulan Muharram 1448 Hijriah menyapa dengan sejuta keberkahan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di Kampung Salahaur, Rangkasbitung, sebuah oase kasih sayang hadir dari tangan dingin keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Riyadhul Mutafakirin. Lebih dari 100 anak yatim berkumpul, bukan sekadar untuk menerima bantuan, melainkan untuk merasakan pelukan hangat kepedulian yang selama ini mungkin mereka rindukan.

Di bawah komando KH Abdullah, sang pimpinan pesantren, kegiatan yang telah menjadi tradisi tahunan ini berubah menjadi momen yang menyentuh kalbu. Suasana khidmat menyelimuti pelataran pesantren saat satu demi satu anak yatim melangkah maju.

Di antara kerumunan itu, tampak Ahmad (10), seorang anak yatim yang hadir dengan mengenakan kemeja yang sedikit kebesaran. Matanya berbinar saat menerima santunan, namun lebih dari itu, ia tampak begitu bersemangat ketika KH Abdullah mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang—sebuah gestur sederhana yang seolah menjawab kerinduan sosok ayah yang telah lama tiada.

"Saya senang bisa ke sini, tadi didoakan dan bisa bertemu teman-teman lain," ucapnya polos dengan senyum lebar yang menghapus lelah perjalanan menuju pesantren. Momen seperti yang dialami Ahmad adalah cerminan dari tujuan utama kegiatan ini; memberikan perhatian yang membuat mereka merasa istimewa dan berarti.

“Nilainya mungkin tidak seberapa bagi banyak orang, namun bagi mereka, ini adalah bukti bahwa mereka tidak sendiri di dunia ini,” tutur KH Abdullah dengan nada yang menyiratkan kedalaman makna. Baginya, angka 100 lebih bukanlah sekadar statistik, melainkan ratusan doa yang dititipkan melalui senyuman anak-anak yatim.

Dalam pidato singkatnya, KH Abdullah menegaskan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan mereka yang lemah. Baginya, memberikan santunan di bulan Muharram adalah sebuah panggilan nurani untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yatim di lingkungannya yang merasa terpinggirkan oleh zaman.

Puncak keheningan terjadi ketika doa bersama dilantunkan. Di bawah langit Muharram yang syahdu, suara amin yang menggema dari ratusan bibir mungil dan para jamaah seolah menjadi jembatan harapan. Air mata haru sempat membasahi sudut mata sebagian hadirin, menyaksikan bagaimana kebersamaan mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan yang nyata.

Aksi sosial ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di tengah modernisasi yang sering kali membuat manusia menjadi individualis, masih ada bara api kepedulian yang terus menyala di jantung Kabupaten Lebak. Ponpes Riyadhul Mutafakirin telah membuktikan bahwa kebaikan adalah bahasa universal yang selalu menemukan jalannya untuk menyentuh hati mereka yang paling membutuhkan.

(Redaksi) 

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - GEMA INDONEWS